Scroll untuk baca artikel
Example 325x300


Ketapang

Mopakha Dukung Ketahanan Pangan dan Ekonomi Lokal Melalui Budidaya Lele 

372
×

Mopakha Dukung Ketahanan Pangan dan Ekonomi Lokal Melalui Budidaya Lele 

Share this article


PosKalbar.com – Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat setempat, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha), bersama Tim Pemberdayaan Masyarakat, dan masyarakat Desa Sukamaju menjalankan program budidaya lele. Program ini kini menjadi langkah nyata mendukung peluang ekonomi untuk masyarakat di sekitar wilayah kerja Perusahaan, sekaligus memperkuat strategi pangan nasional.

Melalui program bantuan permodalan usaha-Ayo Bangun Usaha Mandiri (AYO BANG USMAN) yang berjalan sejak tahun lalu oleh Mopakha dan Tim Pemberdayaan Masyarakat ini mencatat bahwa 50.000 – 60.000 ekor bibit lele per siklus berhasil dihasilkan oleh masyarakat binaan di Desa Sukamaju, dan dari 3,000 bibit yang ditebar, tingkat kematian bibit di bawah 5% – sebesar 2 ekor yang mati di tahap awal pembesaran (data internal lapangan).

Dengan siklus panen setiap tiga bulan, pembudidaya kini bisa menyiapkan stok ikan konsumsi, sekaligus bibit untuk pemijahan berikutnya. Data ini menjadi sinyal bahwa pengelolaan air, indukan, dan metode budidaya yang diterapkan efektif.

Tim Pemberdayaan Masyarakat bersama masyarakat terus melakukan pendampingan teknis dalam pengelolaan kualitas air, pemberian pakan berkualitas, pemantauan aerasi dan kesehatan ikan. Menurut Syaiful Bahri, peternak di Desa Sukamaju,“Kondisi kolam kini lebih stabil dan hasil panen makin konsisten”.

Meski sistem budidaya semakin baik, tantangan terbesar masih pada logistik pakan. Pasokan pakan berkualitas masih bergantung pada daerah Jawa, sehingga harga tinggi dan tidak stabil. Saat harga jual lele di pasar lokal berkisar Rp25.000–26.000 per kilogram, harga pakan justru naik signifikan. Untuk menekan biaya produksi, kini Tim Pemberdayaan Masyarakat sedang meneliti pakan alternatif lokal berbahan dasar limbah pertanian, seperti magot, dedak dan tepung ikan lokal, agar tetap memenuhi standar protein dan efisiensi biaya.

Secara nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat bahwa produksi lele Indonesia tahun 2023 mencapai 1,14 juta ton, menjadikannya salah satu komoditas unggulan kelompok “cat fish” bersama patin. KKP juga mendorong penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir, sehingga produksi lokal seperti di Ketapang dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Dengan permintaan tinggi saat ini dari sektor konsumsi dan katering, Mopakha menilai peluang pengembangan lele masih sangat besar.

Bahkan sebagian hasil panen Syaiful kini sudah mulai terserap ke pasar Ketapang hingga Kalimantan Tengah. Dengan demikian, usaha budidaya lele di Desa Sukamaju tidak hanya berperan di tingkat lokal, tetapi juga berhubungan dengan dinamika produksi lokal dan strategi pencapaian nilai tambah komoditas perikanan.

Menurut Syaiful, “Permintaan lele ini masih belum terpenuhi, sehingga saya rasa ini dapat menjadi peluang usaha juga bagi warga lainnya”.

Melihat data BPS Provinsi Kalimantan Barat tahun 2022 tentang Produksi Perikanan Budidaya Kabupaten Ketapang pada Komoditas Lele ada di angka 3,709 ton.

“Diharapkan produksi dari Desa Sukamaju dapat turut berpartisipasi pada peningkatan pasokan budidaya daerah”, tambah Supardi selaku Kepala Desa Sukamaju.

Menuju Keberlanjutan Lokal dan Nasional Program budidaya lele ini menunjukkan bahwa inovasi sederhana di tingkat desa bisa turut serta mendukung ketahanan pangan lokal, sekaligus berkorelasi dengan strategi produksi nasional lele.

Dengan menautkan data lokal dan nasional, Mopakha berharap bahwa usaha peternak lele masyarakat binaan dapat menjadi bagian dari ekosistem perikanan berkelanjutan. Pendampingan rutin, pembinaan teknis, serta riset pakan lokal menjadi langkah nyata Mopakha untuk memastikan keberlanjutan produksi tanpa merusak lingkungan.

“Usaha yang sehat, kelestarian lingkungan, sekaligus mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat, tetap menjadi prinsip utama Mopakha dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungannya”.

Tentang PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) Mopakha adalah perusahaan kehutanan swasta nasional yang berfokus pada pengelolaan ekosistem gambut secara  berkelanjutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Mopakha mengelola kawasan hutan alam seluas 36.973 hektar dengan pendekatan multiusaha kehutanan yang menggabungkan konservasi, produksi lestari, dan pemberdayaan masyarakat. Berada di wilayah utara Ketapang, kawasan ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, melindungi keanekaragaman hayati, serta mendukung kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Mopakha menempatkan hutan bukan sekadar sebagai sumber daya, melainkan sebagai penopang kehidupan. Dari hutan yang lestari lahir keseimbangan alam, terjaganya ekosistem, serta mata pencaharian masyarakat berkelanjutan menuju kehidupan yang sejahtera. Mopakha meyakini bahwa keberlanjutan hanya dapat terwujud melalui pengelolaan yang bijak dan kolaboratif — antara alam, manusia, dan ilmu pengetahuan. Karena itu, Mopakha menjalankan prinsip keberlanjutan melalui skema multiusaha kehutanan, dengan kegiatan yang menjaga kelestarian ekosistem, melindungi  satwa liar, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Perjalanan Mopakha dimulai pada tahun 2008 melalui terbitnya SK IUPHHK-HA sebagai dasar pengelolaan hutan alam di Kabupaten Ketapang. Tahun 2019 menjadi titik transformasi, saat manajemen baru hadir dengan komitmen kuat pada pengelolaan yang berkelanjutan, transparan, dan partisipatif.

Sejak itu, Mopakha terus berbenah —memperkuat tata kelola, memulihkan ekosistem gambut, dan mengembangkan multiusaha kehutanan berbasis kolaborasi dengan masyarakat. Kini, Mopakha tumbuh sebagai perusahaan yang menyatukan nilai ekonomi, ekologi, dan sosial dalam satu visi keberlanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *