PosKalbar.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kian mengkhawatirkan. Api yang membakar kawasan vegetasi dan lahan gambut mulai mendekati badan jalan hingga mengancam permukiman warga.
Kondisi tersebut salah satunya terjadi di Kecamatan Matan Hilir Utara (MHU). Kepungan api dan asap tebal disebut telah dirasakan masyarakat selama hampir tiga pekan.
Tokoh pemuda asal Matan Hilir Utara (MHU), Katon Prasetio, mengatakan kebakaran terjadi di sejumlah titik, terutama kawasan tepian sungai di wilayah tersebut.
“Kami yang tinggal di sini merasakan betul dampaknya. Di peta sebaran titik api, wilayah Ketapang, khususnya sepanjang tepian sungai di MHU, titik kebakarannya sangat padat. Kebakaran ini sudah berjalan dua sampai tiga minggu,” ujar Katon saat ditemui di lokasi terdampak, Jumat (21/8/2026).
Menurut dia, dampak karhutla tidak hanya membuat kualitas udara memburuk. Aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut terpukul karena sejumlah kebun kelapa sawit milik warga terbakar.
“Di kampung kami, selain mencari kebutuhan dari sektor perairan, kebun sawit itu tumpuan hidup yang amat penting. Warga yang hanya punya dua sampai empat batang pohon pun mengandalkan hasil panennya untuk membeli beras seminggu atau sebulan. Sekarang habis terbakar,” katanya.
Katon memperkirakan kerugian akibat kebakaran jika dihitung dalam satu kampung telah mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Karhutla juga berdampak terhadap aktivitas pendidikan. Katon menyebut seluruh sekolah di satu kecamatan sempat diliburkan akibat kondisi kabut asap.
Hingga kini, jam masuk sekolah terpaksa digeser menjadi setelah pukul 08.00 WIB. Kebijakan tersebut dilakukan karena jarak pandang dan kepekatan asap pada pagi hari dinilai masih mengkhawatirkan.
Di sisi lain, upaya pemadaman menghadapi kendala serius. Kemarau panjang membuat ketersediaan air semakin terbatas, sementara sarana pemadaman di lapangan juga dinilai masih minim.
Bahkan, kata Katon, warga yang memiliki kemampuan finansial harus mengeluarkan biaya sekitar Rp2 juta untuk membuat sumur bor sebagai sumber air.
“Jangankan memadamkan lahan luas, untuk menyiram pekarangan saja airnya sulit. Masyarakat kecil dan menengah ke bawah tidak sanggup membuat sumur bor,” ungkapnya.
Ancaman paling serius disebut terjadi di Desa Sungai Putri. Api dari kawasan hutan dilaporkan telah mendekati jalan poros dan nyaris merambat hingga ke dinding rumah warga.
Kondisi itu membuat pemuda bersama pemilik lahan harus berjaga hingga malam hari untuk mengantisipasi api merambat ke permukiman.
“Abang saya dan warga lainnya tiap malam harus ronda di pinggir api, berjaga jangan sampai merembet ke rumah. Kami cuma bisa pasrah dan memutar lantunan zikir sambil memantau bara api. Rasa-rasanya kami berjuang sendirian,” tutur Katon.
Ia menilai penanganan karhutla di tingkat tapak masih berjalan lambat dan belum sebanding dengan ancaman yang dihadapi masyarakat.
Katon berharap pemerintah segera meningkatkan penanganan di lapangan, terutama di wilayah yang api telah mendekati permukiman warga.
Ia juga mengingatkan potensi meluasnya kabut asap apabila karhutla tidak segera dikendalikan. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengulang bencana kabut asap besar yang pernah terjadi pada tahun 2015.
“Pemerintah daerah terlihat tidak siap mengendalikan situasi ini, dan penanganan di tingkat tapak sangat lambat. Kalau kebakaran masif ini terus dibiarkan tanpa intervensi nyata, kami khawatir bencana kabut asap terparah seperti tahun 2015 akan terulang kembali di tanah kami,” pungkasnya.













