KetapangPontianak

Ketapang Gaungkan Pelestarian Budaya Dayak melalui Pekan Gawai Dayak Kalbar ke-40

×

Ketapang Gaungkan Pelestarian Budaya Dayak melalui Pekan Gawai Dayak Kalbar ke-40

Share this article

PONTIANAK — Pekan Gawai Dayak atau PGD Kalimantan Barat ke-40 Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat Dayak dalam menjaga warisan budaya, mempererat persaudaraan, serta memperkenalkan kekayaan adat Kalimantan Barat kepada masyarakat luas.

Tahun ini, Kabupaten Ketapang mendapat kepercayaan untuk tampil sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan budaya tahunan tersebut yang dipusatkan di Rumah Radakng, Pontianak. Sejak resmi dibuka pada Rabu, 20 Mei 2026, suasana kebudayaan, kekeluargaan, dan kebersamaan begitu terasa dalam setiap rangkaian kegiatan.

Ribuan masyarakat, tokoh adat, tamu daerah, delegasi budaya, hingga perwakilan dari Malaysia turut hadir menyaksikan berbagai agenda budaya yang sarat makna. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa Pekan Gawai Dayak tidak hanya menjadi ruang perayaan adat, tetapi juga menjadi jembatan persaudaraan lintas daerah dan lintas negara.

Dalam rangkaian PGD Kalbar ke-40, Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh turut aktif mendampingi kontingen Kabupaten Ketapang. Kehadiran tersebut terlihat dalam berbagai agenda, mulai dari prosesi adat, pertunjukan seni budaya, hingga persiapan ritual sakral Pesalin yang menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan tahun ini.

Bagi Kabupaten Ketapang, keikutsertaan dalam Pekan Gawai Dayak bukan sekadar agenda seremonial. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata komitmen dalam menjaga identitas budaya Dayak agar tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi muda di tengah arus modernisasi.

“Ini bukan hanya festival budaya, tetapi ruang untuk menjaga identitas, menghormati warisan leluhur, dan memperkenalkan budaya Dayak Ketapang kepada generasi muda maupun masyarakat luar,” demikian pesan yang disampaikan Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh.

Salah satu rangkaian penting dalam PGD Kalbar ke-40 adalah prosesi Pesalin. Prosesi ini merupakan ritual adat pemberian gelar kehormatan khas Dayak Ketapang yang diwariskan secara turun-temurun dan dilaksanakan melalui tata cara adat yang sakral.

Dalam prosesi tersebut, sejumlah tokoh nasional, jajaran Majelis Adat Dayak Nasional atau MADN, serta tamu dari Sarawak, Malaysia, menerima gelar kehormatan adat. Pemberian gelar tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang dinilai memiliki kedekatan, kepedulian, dan kontribusi terhadap masyarakat serta kebudayaan Dayak.

Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh menegaskan bahwa gelar adat memiliki makna yang mendalam dan tidak dapat diberikan sembarangan. Menurutnya, adat adalah marwah masyarakat Dayak yang harus dijaga agar tidak kehilangan nilai, kesakralan, dan kehormatannya.

“Dalam tradisi Dayak Ketapang, gelar adat diberikan melalui proses adat yang sah oleh para pemangku dan sesepuh adat. Ini bukan sekadar simbol, tetapi penghormatan terhadap nilai leluhur,” tegasnya.

Pelaksanaan PGD Kalbar ke-40 juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda. Melalui kegiatan ini, anak-anak muda diharapkan semakin mengenal akar tradisi, memahami nilai-nilai kehidupan masyarakat Dayak, serta memiliki kebanggaan terhadap identitas budaya sendiri.

Nilai-nilai seperti kebersamaan, penghormatan terhadap alam, gotong royong, persaudaraan, dan penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting yang diwariskan melalui setiap tarian, ritual, pakaian adat, bahasa, dan simbol budaya yang ditampilkan dalam Pekan Gawai Dayak.

Selain memiliki nilai budaya dan edukasi, PGD Kalbar ke-40 juga memberikan dampak positif bagi daerah. Kegiatan ini mampu menggerakkan sektor UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, pariwisata, serta promosi budaya Kalimantan Barat di tingkat nasional maupun internasional.

Gubernur Kalimantan Barat, H. Ria Norsan, menyampaikan bahwa Pekan Gawai Dayak merupakan milik seluruh masyarakat Kalimantan Barat. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kekuatan budaya yang mampu mempererat keberagaman dan memperkuat persatuan.

“Pekan Gawai Dayak bukan hanya milik masyarakat Dayak, tetapi milik seluruh masyarakat Kalimantan Barat. Setiap tahunnya kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh masyarakat Dayak Indonesia, tetapi juga dari Malaysia dan berbagai tamu lainnya,” ujar Gubernur Ria Norsan.

Ia menilai, masuknya PGD Kalbar ke-40 dalam agenda Kharisma Event Nusantara atau KEN menjadi peluang besar untuk memperkenalkan seni tradisional, kuliner khas, dan kearifan lokal Dayak kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, yang juga menjabat sebagai Dewan Penasihat Dewan Adat Dayak Kalbar, mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam memeriahkan PGD tahun ini.

Ia berharap Pekan Gawai Dayak terus berkembang menjadi destinasi wisata budaya unggulan Kalimantan Barat. Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara serta memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat.

Menurut Krisantus Kurniawan, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Masyarakat perlu mampu menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi tanpa melupakan nilai-nilai adat, budaya, dan jati diri leluhur.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat Dayak adalah masyarakat yang bermartabat, hidup dengan nilai kehormatan, kerja keras, dan harga diri. Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga sebagai bagian dari kekuatan budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Rangkaian PGD Kalbar ke-40 turut diramaikan dengan pawai kendaraan hias, pertunjukan seni budaya, ritual adat, pameran, serta berbagai penampilan tradisi dari kabupaten dan kota se-Kalimantan Barat. Setiap penampilan memperlihatkan kekayaan budaya masyarakat Dayak yang hidup dan berkembang di berbagai wilayah.

Melalui momentum ini, Kabupaten Ketapang tidak hanya tampil sebagai tuan rumah, tetapi juga membawa pesan kuat bahwa budaya adalah jati diri yang harus dijaga bersama. Di balik setiap tarian, ritual, ukiran, busana adat, dan tradisi lisan, tersimpan nilai kehidupan, sejarah, dan warisan leluhur yang menjadi kekuatan masyarakat Dayak hingga hari ini.

Pekan Gawai Dayak Kalbar ke-40 menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni. Budaya harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, diajarkan kepada generasi muda, dan dijadikan fondasi dalam membangun masyarakat yang beradab, bermartabat, dan bersatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *