Kayong Utara

Nyepi 2026 di Sedahan Jaya Jadi Simbol Toleransi di Tengah Keberagaman

×

Nyepi 2026 di Sedahan Jaya Jadi Simbol Toleransi di Tengah Keberagaman

Share this article

PosKalbar.com – Sejumlah hari besar keagamaan pada 2026 berlangsung dalam waktu yang berdekatan, mulai dari Tahun Baru Imlek, Hari Raya Nyepi, hingga bulan suci Ramadan, yang kemudian disusul Hari Raya Idul Fitri.

 

Momentum tersebut menghadirkan suasana kebersamaan di tengah keberagaman umat beragama di Indonesia, termasuk di Kabupaten Kayong Utara.

 

Perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026 juga dirayakan umat Hindu di Kampung Bali, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana. Kawasan ini menjadi tempat tinggal masyarakat Hindu keturunan Bali yang setiap tahunnya melaksanakan rangkaian ibadah Nyepi dengan khidmat.

 

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kayong Utara, Komang Surapada (58), mengatakan perayaan Nyepi Tahun Saka 1948 diawali dengan sejumlah rangkaian kegiatan keagamaan.

 

“Diawali dengan Melasti pada 17 Maret, kemudian dilanjutkan Tawur Kesanga pada 18 Maret,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (15/3/2026).

 

Ia menjelaskan, Melasti merupakan prosesi penyucian sarana prasarana serta pembersihan alam semesta sebelum memasuki Hari Raya Nyepi, sehingga umat Hindu dapat menjalankan ibadah dalam keadaan suci lahir dan batin.

 

Sementara itu, Tawur Kesanga merupakan ritual yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi sebagai bentuk penyucian alam.

 

“Tujuannya agar saat Nyepi berlangsung, tidak ada gangguan sehingga umat dapat beribadah dengan tenang,” jelasnya.

 

Di Sedahan Jaya, perayaan Nyepi tidak diisi dengan pembuatan ogoh-ogoh seperti di sejumlah daerah lain. Sebagai gantinya, masyarakat setempat menggelar pawai obor sebagai bagian dari tradisi.

 

“Di sini tidak ada ogoh-ogoh, cukup pawai obor saja,” tambahnya.

 

Pelaksanaan Nyepi berlangsung selama 24 jam, dimulai pada 19 Maret pukul 06.00 WIB hingga 20 Maret pukul 06.00 WIB.

 

Selama itu, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni Amati Geni (tidak menyalakan api atau listrik), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan).

 

Setelah Nyepi, umat Hindu melaksanakan tradisi Ngembak Geni, yakni kembali menyalakan api atau listrik serta bersilaturahmi dan beraktivitas seperti biasa.

 

Komang menambahkan, meski Nyepi tahun ini berdekatan dengan Ramadan dan menjelang Idul Fitri, masyarakat di Kampung Bali Sedahan Jaya tetap menjaga toleransi antarumat beragama.

 

“Kami di sini hidup berdampingan dengan umat lain. Saat ada takbiran, itu tidak masalah selama tetap saling menghormati,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *